Umum

Tidak berkeluh kesah

Tidak berkeluh kesah

Table of Contents

Tidak berkeluh kesah

Tidak berkeluh kesah
Tidak berkeluh kesah

Akhlak kedua agar kita bisa bersabar ketika sakit adalah berusaha untuk tidak berkeluh kesah. Sebab keluh kesah termasuk tanda-tanda dari ketidaksabaran, Ngarasula kalau dalam bahasa Sunda. Sampai-sampai berucap begini, Auuhhh… aing ieu mah nyeri pisan (Aduh, ini sakit sekali rasanya). Alaahhh siah mamah ieu mah teu kuat, ngajeletotna kabina-bina (Aduh Mak, nggak kuat, sakitnya sakit sekali).

Biasanya, orang menderita itu bukan karena sakitnya, tapi karena dramatisasinya. Dan termasuk tidak sabar kalau kita ingin menceritakan sakit kita dan yang diceritakan itu lebih daripada kenyataan. Belum-belum berkata begini, “Aduuuhh, ieu, peurih…, peurih yeuh” (Aduuh, ini sakit sekali) Padahal sebenarnya biasa-biasa saja rasa sakitnya itu.

Kebiasaan mendramatisasi rasa sakit ini ternyata ada saja yang menyukainya. Entah mengapa, ada semacam kesenangan ketika melihat ada orang yang bersimpati padanya. Dia puas mengajak orang lain menderita. Padahal, ini pun termasuk dari sikap tidak sabar menghadapi sakit.

Oleh karena itu, betapa pun parahnya penyakit kita, cobalah untuk memproporsionalkannya. Tak usah kita sampai berteriak-teriak segala. Maka ketika kita sakit cobalah latihan sabar untuk tidak mendramatisasinya.

Kalau awalnya kita mengekspos ke mana-mana, maka ada baiknya mulai saat ini kita mengeluh dengan menyebut nama Allah. Seperti, “Yaa Allah, ya Rabb, ya Syafii….” Ucapan semacam ini jelas akan membawa manfaat dan pahala.

Untuk ibu-ibu yang akan melahirkan, misalnya, tak usah sampai menyebut-nyebut nama pendamping. Soalnya suami pun tidak bisa berbuat apa-apa saat itu, sampai berucap, “Papaahhh….” Kalau kemudian kita meninggal saat itu, bisa jadi tidak ada pahalanya. Na`udzubullahi min dzaliq. Lebih baik nama Allah saja yang disebut, seperti, “Ya Allah, ya syafii, ya ghafururrahiim, ya arhamar raahimiin, ya shabuur, ya arhamarraahimiin”. Insya Allah sakitnya akan diubah oleh Allah menjadi nikmat.

Di samping itu, jangan jadikan sakit kita itu membuat kita bermanja-manja dengan membebani orang lain. Selagi masih sanggup, jangan korbankan harga diri kita kecuali kalau orang itu senang membantu. Namun kalau kita sampai diharuskan bed rest (beristirahat di tempat tidur), maka, adalah suatu kezaliman pada diri sendiri bila kemudian kita memaksakan tubuh kita untuk bergerak.

Baca Juga :