Uncategorized

Remaja dalam Perkembangan Jiwa Manusia

Remaja dalam Perkembangan Jiwa ManusiaRemaja dalam Perkembangan Jiwa Manusia

Aristoteles adalah seorang filsuf yang membedakan matter (wujud lahiriah) dan form (isi kejiwaan). Setiap matter, menurut Aristoteles, selalu mengandung form  di dalamnya, tidak perduli apakah itu biji jagung atau manusia. Hanya Tuhan saja merupakan form tanpa matter. Pandangan Aristoteles ini sampai sekarang masih berpengaruh pada dunia modern kita, antara lain dengan tetap dipakainya batas usia 21 tahun dalam kitab-kitab hokum di berbagai Negara, sebagai batas usia dewasa. Akan tetapi pendapat Aristoteles ini tidak didukung oleh filsuf Perancis J.J Rousseau yang hidup hamper 20 abad kemudian (1712-1778). Rousseau menganut paham Romantic Naturalism, menyatakan bahwa yang terpenting dalam perkembagan jiwa manusia adalah perkembangan perasaannya. Empat tahapan menurut Rousseau adalah sebagai berikut :

1)      Umur 0-4 atau 5 tahun : Masa kanak-kanak (infancy). Tahap ini di dominasi oleh perasaan senang (pleasure) dan tidak senang (pain) dan menggambarkan tahap evolusi di mana masih sama dengan binatang.

2)      Umur 5-12 tahun : Masa bandel (savage stage). Tahap ini mencerminkan era manusia liar, manusia pengembara dalam evolusi manusia. Perasaan-perasaan yang dominan dalam periode ini adalah ingin main-main, lari-lari, loncat-loncat, dan sebagainya yang pada pokoknya untuk melatih ketajaman indera dan keterampilan anggota-anggota tubuh.

3)      Umur 12-15 tahun : Bangkitnya akal (ratio), nalar (reason) dan kesadaran diri (self consciousness). Dalam masa ini terdapat energy dan ketakutan fisik yang luar biasa serta tumbuh keinginan tahu dan keinginan coba-coba. Dalam periode ini, anak dianjurkan belajar tentang alam dan kesenian, tetapi yang penting adalah proses belajarnya, bukan hasilnya. Anak akan belajar dengan sendirinya, karena periode ini mencerminkan ilmu pengetahuan dalam evolusi manusia.

Sumber :

https://civitas.uns.ac.id/kasiono/jasa-penulis-artikel/