Pendidikan

Persepsi Islam terhadap Globalisasi

Persepsi Islam terhadap Globalisasi

Persepsi Islam terhadap Globalisasi 

Persepsi Islam terhadap Globalisasi

Realitas globalisasi memperlihatkan dukungan berkurangnya kekuatan yang dimiliki oleh negara dan masyarakat. Kekuatan globalisasi secara umum dimotori oleh kekuatan modal asing yang berwujud perusahaan-perusahaan multinasional dan perusahaan transnasional. Perusahaan tersebut adalah perusahaan raksasa baik yang pabriknya berada di negara adikuasa dengan produk yang menyebar ke mancanegara ataupun perusahaan yang mempunyai cabang di negara berkembang.
Berdasarkan kecendrungan perkembangan kapitalisme, globalisasi merupakan jalan lanjutan kapitalisme di sebuah negara. Negara yang terlibat dengan sistem kapitalisme ini tidak dapat menghindar dari jeratannya. Negara tidak lagi diperkenankan melakukan proteksi maupun intervensi yang terlalu besar dalam perekonomian.
Teknologi informasi dan komunikasi media elektronik yang diproduksi oleh negara-negara industri maju seperti Amerika, Inggris, Perancis, yang mempercepat arus globalisasi berbasis pada bidang ekonomi dan budaya ke seluruh dunia. Arus globalisasi tampaknya akan terus mengalir dan tidak dapat dibendung. Pada tingkat tertentu globalisasi akan mempengaruhi dan membentuk format sosial politik, budaya maupun agama.
Globalisasi membawa kepada kecendrungan semacam homogenitas budaya. Budaya nasional berinteraksi dengan budaya kosmopolitan dan budaya lokal pun akan berdampingan dengan budaya kosmopolitan. Fenomena ini menimbulkan disparitas persepsi dari berbagai pihak karena globalisasi dipandang sebagai problem mendasar yang ikut menentukan kualitas manusia sekarang dan yang akan datang.
Paul Hirst dan Grahame Thompson dalam menyoroti globalisasi dari perspektif ekonomi. Keduanya mengatakan bahwa konsep globalisasi seperti yang dikedepankan oleh pengamat ekstrim, tidak lain dan tidak bukan adalah mitos belaka. Pendapat Hirst dan Thompson bukan tidak beralasan. Mereka menggunakan argumentasi sebagai berikut.

Pertama

tatanan ekonomi yang sangat mendunia sekarang ini hanyalah bagian dari gelombang turun naik (konjungtur) pertumbuhan ekonomi internasional yang mulai ada sejak ekonomi yang berlandaskan pada teknologi industri yang mulai menyebar ke seluruh dunia sejak tahun 1860-an.
Kedua, perusahaan transnasional yang murni jarang ditemukan karena perusahaan transnasional pada umumnya berbasis negara nasional dan aktivitas perdagangan dunia bertumpu pada kekuatan produksi nasional.
Ketiga, lalu lintas modal tidak mengakibatkan berpindahnya penanaman modal dan kesempatan kerja secara besar-besaran dari negara maju ke negara berkembang. Penanaman modal asing justru banyak terpusat di negara-negara industri maju seperti Eropa, Jepang, dan Amerika.
Keempat, kekuatan ekonomi negaranegara industri maju ini mampu mengatur pasar modal dan aspek ekonomi lainnya. Oleh karena itu tidak benar bila pasar modal dunia tidak dapat diatur dan dikendalikan. Latief, Dochak dalam ”Pembangunan Ekonomi dan Kebijakan Ekonomi Globalisasi” mengemukakan bahwa globalisasi yang berbasis ekonomi juga dipandang sebagai ekspansi dari neoliberalisme. Seringkali paham neoliberalisme dipandang sebagai sebuah kemajuan. Dan hal ini mudah dipahami karena munculnya dalam pandangan publik adalah kemajuan teknologi dan media elektronika yang merupakan kekuatan produksi dari sistem globalisasi.
Seiring dengan perdebatan yang terus terjadi tentang pemahaman globalisasi namun globalisasi terus berjalan, termasuk proses terintegrasinya kehidupan antar negara ke arah masyarakat dunia yang saling terkait, saling tergantung dan saling mempengaruhi dengan memberdayakan kemajuan teknologi informasi, komunikasi dan transportasi.
Realitas globalisasi semacam ini dalam pandangan Dochak Latief tidak bisa ditolak, kecuali bagi negara yang sengaja mengisolasikan diri dari perekonomian dunia yang semakin cepat berkembang. Arus perkembangan dunia menjadi semakin deras setelah difungsikannya bahasa Inggris sebagai bahasa internasional, penggunaan mata uang dolar sebagai mata uang internasional, pesatnya sektor pertumbuhan dunia pariwisata, kerangka sistem moneter dan perdagangan dunia yang relatif mapan serta munculnya kekuatan ekonomi yang berimbang antara Amerika, Eropa Barat, dan Jepang.
Mastuhu dalam menyikapi globalisasi sebagai sebuah keniscayaan sejarah. Mastuhu meminjam argumen Karl Mannheim yang melihat globalisasi sebagai sebuah ideologi. Bagi Mastuhu globalisasi adalah konsep atau proses tanpa henti yang tidak bisa dibendung dan ditolak. Globalisasi menjadi sebuah keniscayaan sejarah. Sebagai proses, globalisasi akan mengalami tahapan-tahapan perkembangan yang pada tingkat tertentu mampu membentuk format sosial seluruh kehidupan manusia baik politik, sosial, budaya maupun ekonomi. Globalisasi sebagai ideologi adalah proyeksi kehidupan masa depan atau gejala yang akan terjadi di kemudian hari berdasarkan sistem yang dominan di dalam masyarakat.
Tanda-tanda globalisasi yang diamati oleh Mastuhu terdiri dari tiga hal besar yaitu
Pertama, globlisasi ditandai oleh menguatnya ruang pribadi. Ruang kebebasan pribadi untuk mengekspresikan pendapat, jati diri, dan kepribadian semakin menyempit karena banyaknya pesan-pesan atau tuntutan-tuntutan dari kehidupan modern yang harus dilaksanakan. Akibatnya beban moral semakin berat, seolah-olah tidak ada lagi kemerdekaan pribadi untuk mengembangkan ide-ide aslinya. Ditambah lagi nilai-nilai lama dijungkirbalikkan dan diganti dengan nilainilai baru yang meterialistis.
Kedua, globalisasi adalah sebuah era kompetisi.
Globalisasi membesarkan tingkat kompetisi ekonomi politik antar bangsa baik dari kaca mata struggle for power maupun kaca mata equilibrium. Globalisasi bagi Daniel Boorstin menjadikan dunia sebagai republik teknologi. Setiap negara lalu dituntut untuk melakukan akselerasi yang tidak tanggung-tangung dalam industrialisasi serta penguasaan IPTEK.
Ketiga, globalisasi berarti naiknya intensitas hubungan antar budaya, norma sosial, kepentingan, dan ideologi antar bangsa. Internet dan satelit-satelit komunikasi menghubungkan banyak negara di dunia seolah seperti sebuah desa yang secara sosiologis sering disebut global village. Konsekuensi sangat penting dari globalisasi adalah setiap bangsa dituntut memiliki kesiapan kultural untuk melakukan integrasi terhadap sistem internasional tanpa terkaburkan identitas kesatuan nasionalnya. Selain itu globalisasi menyebabkan terjadinya kesenjangan yang semakin melebar antara moralitas dengan intelektualitas dan menyebabkan semakin besarnya tantangan atau problem kehidupan.
Masalah globalisasi direspons oleh Sahal Mahfudh. Globalisasi menurut Sahal dalam buku ”Muhtarom, Reproduksi Ulama di Era Globalisasi” (97:2005) adalah sebuah sistem simbiosis yang menunjukkan hubungan erat antara aspek-aspek dalam kehidupan.
Interdependensi tidak hanya terbatas dalam satu wilayah atau kawasan saja, melainkan juga dalam kehidupan di suatu negara dengan negara lain di dunia. Selanjutnya akan muncul konsep akulturasi, kompetisi tetapi juga kerjasama. Kompetisi semacam ini akan melahirkan pemikiran untuk mencetak sumber daya manusia yang berkualitas.
Oleh karena itu, komunitas agama perlu mempelajari ilmu pengetahuan yang ada relevansinya dengan kebutuhan masyarakat sehingga menghadapi perubahan terutama perubahan yang ditimbulkan oleh globalisasi.
Globalisasi dapat mempengaruhi wawasan dan cakrawala pikiran para santri pondok pesantren. Untuk menghindari pengaruh negatif globalisasi, pesantren seharusnya menanamkan nilai-nilai agama dan akhlak pada mereka dengan pertimbangan syariat.
Globalisasi bagi Mujib Shaleh dalam muhtarom bukanlah sebuah masalah jika globalisasi mendukung dunia pendidikan Islam. Globalisasi yang ditandai dengan adanya alat-alat canggih seperti televisi, komputer, internet, telpon seluler, dan sebagainya justru mengukuhkan usaha memperdalam Islam, meningkatkan intensitas keimanan dan memotivasi lembaga pendidikan Islam untuk membekali santri tidak saja dengan ilmu syariah melainkan juga dengan ilmu-ilmu lain seperti matematika, IPA.

Pengaruh globalisasi yang materialistis dan sekular adalah sebuah realitas sosial. Globalisasi selain menjadi tantangan juga memberikan peluang sehingga harus direspons secara arif. Sekularitas globalisasi tidaklah selalu mempengaruhi sendi-sendi kehidupan agama. Oleh karena itu apa yang dilontarkan oleh Anthony F.C. Wallace sebagaimana yang dikutip oleh Edgar F. Borgatta dan Marie H.


Baca Juga :