Pencarian Sesuatu Yang Paling Berarti

Pencarian Sesuatu Yang Paling Berarti


Pencarian Sesuatu Yang Paling Berarti 

Pencarian Sesuatu Yang Paling Berarti
Pencarian Sesuatu Yang Paling Berarti

Pencarian Sesuatu Yang Paling Berarti Sesungguhnya

Dari dahulu kala, manusia yang bijaksana telah berusaha dan membuka jalan untuk menemukan sesuatu yang paling berarti dalam hidupnya. Melalui berbagai cara, dari yang biasa dan ekstrim. Untuk itu semua, mereka rela untuk mengorbankan waktu dan materi. Karena materi bukanlah yang sejati dan berarti bagi mereka yang telah mengerti.

Lebih dari itu sesungguhnya yang paling berarti dalam hidup manusia adalah bisa mengenal diri yang sesungguhnya, menemukan HATI NURANI-nya dan kemudian mencapai KESADARAN. Kesadaran untuk terlepas dari kemelekatan. Kesadaran untuk melampaui kebaikan dan kesalahan. Ketika mencapai kesadaran itulah dikatakan manusia telah bisa melampaui kelahiran dan kematiannya.

Agama Islam adalah sebagai jalan dan sarana bagi manusia untuk mengenal dirinya sebagai penuntun untuk mencapai kesadaran menuju kepada pencapaian tertinggi dalam hidup manusia. Sesuatu yang paling berarti karena sejati dan abadi.

Zaman ini kita telah dikejutkan dengan nanotechnology. Kita telah memasuki era dimana kebutuhan semakin berorientasi kepada yang kecil-kecil. Mulai dari telepon, komputer, sampai peralatan rumah tangga. Semakin dibuat kecil, ramping dan efisien. Di era ini kita diajak untuk mengulik sampai ke inti terkecil dari sesuatu yang besar. Bahwa 1 nanometer adalah 1/1,000,000,000 meter. Suatu dimensi yang bahkan lebih kecil dari sehelai rambut kita dibelah tujuh. Dan sesuatu yang kecil itu adalah inti dari sesuatu yang besar. Bahwa Segala yang besar dibangun dari partikel dan komponen-komponen kecil. Dengan mengubah dan mengendalikan sesuatu yang inti, yang kecil, partikel yang menyusunnya itu, maka kita bisa membuat sesuatu yang besar, yang luar biasa!

Maka ilmuan era ini, mulai berpikir bagaimana membuat mesin berskala nano tersebut. Karena itulah jawaban dari kemajuan teknologi kedokteran, dirgantara, energi terbarukan, teknologi pangan dll. Ya, jawaban dari peradaban masa depan adalah perjalanan kita ke “dalam” atau ke inti dari  semua mahluk hidup, yaitu atom-atom, sel dan molekul, nukleus!

Di era atau momentum manusia kini, bukan lagi berbicara tentang cara membuat pesawat berbadan lebar dengan kapasitas 400 penumpang atau lebih, tapi berangan membuat sebuah mesin yang dapat ditanamkan di pembuluh darah seseorang untuk membantu mengefektifkan pengobatan.

“The Art of Building Small” itulah judul kuliah umum dari professor Faringa di depan civitas akademika Universitas Groningen sebagai penghargaan kepadanya atas hadiah Nobel yang baru diterimanya.

Intinya adalah, kita telah masuk ke zaman berpikir nano, yakni berpikir ke dalam (inward), bukan keluar (outward). Berpikir nano adalah berpikir yang dikendalikan oleh faktor terdalam dari diri kita yang kemudinya adalah self awareness dan conscience. Kesadaran diri! Itulah yang menggerakkan kita, bukan faktor luar!

Segala yang besar dibangun dari partikel dan komponen-komponen kecil. Tapi, kadang kita lupa, kita ingin langsung mendapat hasil langsung besar. Kita bahkan terbiasa menghargai  pencapaian yang terlihat besar tanpa perduli kalau hasil besar adalah buah dari bibit-bibit kecil.

Kalau kita berenang di kolam kecil, maka kita merasa besar. Padahal, jika kita berenang di tengah lautan Pasifik, barulah kita merasakan betapa kita hanyalah buih kecil, sangat tak berarti. Pun, jika kita hanya berkutat di satu lingkungan, satu organisasi, satu paham, dan merasa kita sudah berada di puncak dunia, maka hal selanjutnya yang terjadi adalah tergerusnya kita oleh zaman. Kita tidak akan kemana-mana, kita akan terborgol dengan ‘kebesaran’ itu sendiri. Itu-itu saja, dan cuma di situ-situ saja!

Maka, ketika segala persoalan diselesaikan dengan pendekatan makrosopik dan bukan mikroskopik, kita akan cenderung melihat hanya yang terlihat besar saja, namun tidak akan dapat mendeteksi inti permasalahannya. Tak pelak, jika kita menyelesaikan dengan cara makro, masif, akbar, teriakan, cercaan, hujatan dan bukan dengan pendekatan nano seperti nilai-nilai, moral, etika, hati nurani, maka sudah dapat kita tebak seperti apa hasilnya. Kita hanya berhenti pada hal-hal yang sifatnya kasat mata. Kita lupa, kalau kita tidak akan jadi besar dengan membesarkan ego.

Sumber : https://downloadapk.co.id/