Pemerintah Harus Seleksi Tentara yang Jadi Guru 3T

Pemerintah Harus Seleksi Tentara yang Jadi Guru 3T


Pemerintah Harus Seleksi Tentara yang Jadi Guru 3T

Pemerintah Harus Seleksi Tentara yang Jadi Guru 3T
Pemerintah Harus Seleksi Tentara yang Jadi Guru 3T

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy mengatakan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) telah menjalin kerja sama dengan Tentara Nasional Indonesia (TNI) untuk terlibat sebagai pengajar di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).

Merespons kebijakan Kemdikbud itu, Ketua Ikatan Guru Indonesia (IGI) Muhammad Ramli Rahim mengatakan, IGI setuju dengan adanya keterlibatan para prajurit untuk penyelesaian masalah kekurangan guru di daerah 3T. Namun itu disertai syarat, para calon pengajar harus mengikuti pendidikan layaknya guru.

“Kami (IGI, red) setuju jika tentara dijadikan guru terutama di daerah terpencil dengan syarat

, tentara harus menjalani pendidikan selayaknya calon guru. Jangan sampai tentara lulusan SMA boleh mengajar di sekolah, padahal di UU, guru wajib berpendidikan minimal S-1 dan sekarang malah harus ikut PPG (Pendidikan Profesi Guru, red),” kata dia kepada SP, Selasa (20/11) malam.

Untuk itu, ia berharap pemerintah tidak setengah-setengah dalam memberikan pelatihan. Selain itu, pemerintah juga harus melakukan seleksi yang ketat terlebih dulu untuk mencari prajurit yang berpotensi mengajar. Mereka yang berpotensi ini harus disekolahkan lagi serta harus mengikuti PPG sehingga para prajurit ini bisa memperoleh gelar Gr, yakni gelar bagi guru yang lulus pendidikan profesi.

Meski sepakat adanya keterlibatan para prajurit TNI, Ramli kembali mendesak Kemdikbud u

ntuk segera menyelesaikan masalah guru, mulai dari kekurangan hingga peningkatan kualitas guru. Untuk masalah kekurangan guru ini kata dia, Kemdikbud harus mengubah skema. Salah satunya adalah, mengembalikan widyaiswara yang berada di Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) dan Pusat Pengembangan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (P4TK) ke posisi awalnya sebagai guru.

“Mereka harus kembali dijadikan guru, karena guru itu tidak akan pernah profesional jika yang melatih bukan guru. Profesi sekarang yang paling profesional adalah dokter dan tentara. Mengapa, karena dosen untuk calon dokter di perguruan tinggi adalah dokter, profesornya juga dokter, pamongnya dokter, semuanya dokter. Mereka juga tetap melakukan praktik sehingga dokter pelatihnya tahu apa masalah di lapangan dan tahu perkembangan zaman, bukan sekadar berbicara teori. Begitu pula tentara,” cetusnya.

Guru SD

Sebelumnya, Muhadjir menyatakan, keputusan untuk menjalin kerja sama dengan TNI

dilakukan karena sejauh ini sudah banyak para prajurit TNI ini yang terlibat sebagai pengajar di waktu luangnya saat menjaga keamanan negara di daerah 3T. Selain itu, ide untuk melibatkan para prajurit TNI ini juga muncul karena ia terkesan ketika melakukan kunjungan kerja ke sekolah di Timika, Papua yang mengalami kebakaran. Saat itu, Muhadjir menyaksikan bagaimana para prajurit TNI mengambil alih untuk menjadi pengajar di sekolah tersebut.

“Sudah ada MoU (nota kesepahaman) dengan Panglima TNI, sehingga nanti para prajurit ini akan dilatih dan pembekalan bagaimana menjadi guru,” kata Muhadir di Jakarta, belum lama ini

 

Baca Juga :