Mendengar Suara Guru dari Wilayah Perbatasan

Mendengar Suara Guru dari Wilayah Perbatasan


Mendengar Suara Guru dari Wilayah Perbatasan

Mendengar Suara Guru dari Wilayah Perbatasan
Mendengar Suara Guru dari Wilayah Perbatasan

Predikat pahlawan tanpa tanda jasa saja tak cukup untuk para guru. Apalagi untuk mereka yang berjuang dengan fasilitas minim di pedalaman. Syawaliah dan Samadi adalah representasi ribuan guru di pedalaman yang butuh perhatian lebih dari pemerintah.

SAHRUL YUNIZAR, Bengkalis

LUAS Kecamatan Rupat Utara, Kabupaten Bengkalis, Provinsi Riau, 628,5 kilometer persegi

. Nyaris sama dengan luas daratan Jakarta yang mencapai 661,52 kilometer persegi. Namun, jumlah sekolah di dua wilayah tersebut jauh berbeda.

Di Jakarta, jumlah sekolah mencapai ribuan. Namun, di Kecamatan Rupat Utara hanya ada 22 sekolah mulai tingkat SD, SMP, sampai SMA. Persebaran guru yang mengajar di wilayah itu pun minim.

Data PGRI Kabupaten Bengkalis mencatat, hanya 96 guru yang bertugas di kecamatan tersebut. Syawaliah yang saat ini menjabat kepala Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Pendidikan Kecamatan Rupat Utara salah satunya.

Kali pertama mengajar, Syawaliah terdata sebagai tenaga honorer di SDN 2 Tanjung Medang.

”Mulai 1989,” kata dia ketika membagikan kisah hidupnya kepada Jawa Pos (Jabar Ekspres Group) di Bengkalis bulan lalu (18/4). Status honorer perempuan kelahiran 10 Desember 1968 itu memang tidak bertahan lama. Hanya dua tahun bertugas, dia sudah diangkat sebagai pegawai negeri sipil (PNS).

Cepatnya perubahan status itu berbeda dengan masa penempatan kerjanya di SDN 2 Tanjung Medang.

Tidak kurang dari 24 tahun dia mengabdi di sekolah tersebut. ”Akhir 2013 baru dipindah,” kenang Syawaliah. SDN 2 Tanjung Medang memang berlokasi di ibu kota Kecamatan Rupat Utara. Namun, jangan bayangkan serupa dengan tanah Jawa.

Sampai saat ini, sebagian jalan di Kecamatan Rupat Utara belum diaspal. Masih mengandalkan hamparan batu di atas tanah. Meski mengkhawatirkan, bagi Syawaliah, kondisi jalan itu lebih baik. Jauh lebih bagus ketimbang ketika kali pertama dia mengajar. ”Dulu jalan masih tanah, susah lewat,” kata dia.

Belum lagi bila hujan mengguyur, tanah berubah menjadi kubangan lumpur. Kalau sudah begitu, Syawaliah semakin sulit untuk berangkat mengajar. Untung, ibu tiga anak itu lahir dan besar di Kecamatan Rupat Utara sehingga sudah terbiasa berhadapan dengan kendala alam. Bukan minta pindah tugas, semangatnya untuk mendidik generasi penerus dari kecamatan itu kian membubung.

 

Sumber :

https://rollingstone.co.id/