Kekerasan Terhadap Perempuan

Kekerasan Terhadap Perempuan


Table of Contents

Kekerasan Terhadap Perempuan

Kekerasan Terhadap Perempuan
Kekerasan Terhadap Perempuan

Terdapat hubungan antarberbagai macam kekerasan yang dilakukan terhadap perempuan di seluruh dunia – perkosaan dan pemukulan, kematian akibat mas kawin di India, pembuatan pornografi, perusakan atau pemotongan organ intim perempuan di Afrika. Hubungannya adalah karena perempuan dilihat sebagai objek untuk dimiliki dan diperdagangkan oleh laki-laki, dan bukan sebaga individu dengan hak atas tubuh dan kehdupannya. Dengan demikian, bebas dari kekerasan menjadi kunci bagi kelompok perempuan di seluruh dunia. Angka-angka terbaru mendokumentasikan jumlah korban kekerasan di dalam rumah yang amat mengejutkan. Di as, pemukulan merupakan kasus urtama kecelakaan terhadap perempuan dewasa dan perkosaan dilakukan setiap enam menit, di peru 70 persen dari seluruh kejahatan yang dilaporkan kepada polisis menyangkut perempuan yang dipukul oleh suaminya. Di lima, kota dengan tujuh juta penduduk, untuk perkosaan saja dilaporkan sebanyak 168.970 dalam tahun 1987. Di India, 8 dari 10 istri mengalami kekerasan dalam rumah tangganya. Tempat yang paling berbahaya bagi perempuan di seluruh dunia adalah di dalam rumah.

Kekerasan menimbulkan rasa malu dan mengintimidasi perempuan; ketakutan akan kekerasan menghalangi banyak perempuan mengambil inisiatif dan mengatur hidup yang akan dipilihny. Ketakutan terhadap kekerasan merupakan salah satu faktor kunci yang menghambat perempuan ikut terlibat dalam pembangunan; ketakutan ini merintangi perempuan untuk pergi ke klinik kb, misalnya, atau menghadiri kelas pemberantasan buta huruf. Womankind worldwide – sebuah ngo yang dibentuk untuk meneropong secara khusus kebutuhan dan potensi perempuan dunia ketiga – menerbitkan laporan tentang kekerasan terhadap perempuan yang merekam beberapa alasan mengapa kekerasan meningkat. Menurut laporan itu, cara produksi baru menimbulkan berbagi perubahan dalam hubungan antarjenis kelamin; yang selanjutnya mungkin mempertnggi ketegangan rumah tangga dalam masyarakat dimana laki-laki percaya bahwa sudah menjadi haknya menontrol mitra hidupnya. Istri dipukul karena “ketidakmampuan atau penolakan mereka untuk menerima kerja ekstra yang berkaitan dengan produksi tanaman yang diperjualbelikan”, perempuan yang tidak terlalu tergantung kepada suami mungkin tidak begitu rentan terhadap kesemena-menaan walaupun laki-laki yang tidak bekerja mungkin juga melampiaskan rasa frustasinya kepada perempuan.

Kekerasan seksual terkait dengan bentuk kekerasan lainnya. Dalam dua dasawarsa terakhir, sikap yang ditujukan kepada perkosaan telah sangat berubah, yang dipelopori oleh gerakan perempuan di seluruh dunia. Jika dulu perkosaan dilihat sebagai kejahatan yang dilakukan oleh laki-laki tidak normal yang tidak mampu mengontrol “nafsu birahinya”, kini perkosaan dilihat sebagai tindakan kekerasan yang dilakukan oleh laki-laki normal terhadap perempuan: pada dasarnya, tindakan itu merupakan mekanisme kontrol dan intimidasi. Yang menarik, uu perkosaan di banyak negara di dunia ini tetap memakai gagasan perkosaan sebagai tindakan melawan perempuan milik laki-laki lain, baik ayah dari perempuan yang belum menikah atau suami dari seorang perempuan yang telah menikah. Gagasan perempuan sebagai kekayaan, perempuan sebagai objek perdagangan, sangat fundamental dalam rangka memahami tindakan kekerasan yang dilakukan terhadap perempuan di seluruh dunia.

Maria Mies melihat gagasan tentang perempuan sebagai kekayaan merupakan sesuatu yang mendasari semakin meningkatnya jumlah perkosaan yang dilakukan terhadap petani pemberontak di kawasan pedesaan di India. Tidak puas dengan membakar rumah dan memukul laki-lakinya, tuan tanah beserta kaki tangannya memperkosa perempuan. Menurut Mies, tindakan ini tidak ada hubungannya dengan seksualitas, tetapi perempuan hanya dilihat sebagai satu-satunya “kekayaan” yang masih dimiliki oleh laki-laki miskin. Perkosaan terhadap perempuan mengajarkan kepada laki-laki miskin bahwa status mereka merupakan salah satu ketidakberdayaan yang mutlak. Di sini hukum kelas dan penindasan terhadap perempuan terkait erat. Laki-laki yang memiliki tanah juga memiliki perempuan yang ada di tanah itu. Dasar pemikiran yang sama – memperjelas kekerasan yang sering diterima oleh perempuan dari suaminya. Menurut gerakan perempuan di India, karena melihat perempuan sebagai objek perdagangan antarlelaki dari dua keluarga itulah yang menjadi akar masalah kematian akibat mas kawin. Catatan polisi menunjukkan tingginya tingkat kematian di keluarga perempuan muda dikarenakan membakar diri. Di Delhi sendiri, 690 perempuan meninggal dunia akibat terbakar dalam tahun 1983, dan dari jumlah ini 270 dinyatakan positif sebagai “membaar diri karena mas kawin” (pembakaran yang disengaja terhadap seorang mempelai perempuan belia oleh keluarga suaminya sebagai cara untuk menyingkirkannya atas dalih bahwa dia tidak membawa mas kawn yang cukup bagi pernikahannya), kelompok perempuan berkeyakinan bahwa sebagian besar, jika tidak semua, kematian semacam itu bukan bersifat kecelakaan. Sebagian besar mungkin bunuh diri, tetapi banyak juga yang dibunuh. Namun, sangat sedikit dari kematian ini yang pernah diselidiki dan bahkan lebih sedikit lagi yang berakhir dengan kepastian. Gerakan perempuan di India dengan lantang menyuarakan kematian yang diduga akibat mas kawin dengan kemarahan dan kesedihan. Namun, ternyata kematian terus saja berlanjut.

Sumber : https://mayleneandthesonsofdisaster.us/