Cinta Seorang Anak Gembala


Table of Contents

Cinta Seorang Anak Gembala

Pada zaman dahulu, hidup seorang gembala yang bersemangat bebas. la tidak mempunyai uang dan tidak mempunyai permohonan untuk memilikinya. Yang ia mempunyai hanyalah hati yang lembut dan penuh keikhlasan; hati yang berdetak bersama dengan kecintaan kepada Tuhan.

Sepanjang hari, ia menggembalakan ternaknya lewat lembah dan ladang melagukan jeritan hatinya kepada Tuhan yang dicintainya, “Duhai Pangeran tercinta, di manakah Engkau, agar saya dapat persembahkan semua hidupku kepada-Mu? Di manakah Engkau, agar saya dapat menghambakan diriku pada-Mu? Wahai Tuhan, untuk-Mu saya hidup dan bernapas. Karena berkat-Mu saya hidup. Aku dambakan mengorbankan domba-Ku ke hadapan kemuliaan-Mu.”

Suatu hari, Nabi Musa lewat padang gembalaan tersebut. la memperhatikan sang Gembala yang sedang duduk di sedang ternaknya bersama dengan kepala yang mendongak ke langit. Sang gembala menyapa Tuhan, “Ah, di manakah Engkau, agar saya dapat menjahit baju-Mu, memperbaiki kasur-Mu, dan buat persiapan ranjang-Mu? Di manakah Engkau, agar saya dapat menyisir rambut-Mu dan mencium kaki-Mu? Di manakah Engkau, agar saya dapat mengilapkan sepatu-Mu dan membawakan air susu untuk minuman-Mu?”

Musa mendekati gembala itu dan bertanya, “Dengan siapa kamu berbicara?”

Gembala menjawab, “Dengan Dia yang telah menciptakan kita. Dengan Dia yang jadi Tuhan yang menguasai siang dan malam, Bumi dan langit.”

Nabi Musa murka mendengar jawaban gembala itu, “Betapa beraninya kamu berbicara kepada Tuhan seperti itu! Apa yang kamu ucapkan adalah kekafiran. Kamu harus menyumbat mulutmu bersama dengan kapas agar kamu dapat mengendalikan lidahmu. Atau paling tidak, orang yang mendengarmu tidak jadi marah dan tersinggung bersama dengan kata-katamu yang telah meracuni semua angkasa ini. Kau harus berhenti berbicara seperti itu saat ini juga gara-gara nanti Tuhan akan menghukum semua masyarakat bumi ini akibat dosa-dosamu!”

Sang Gembala segera bangkit sesudah paham bahwa yang mengajaknya berbicara adalah seorang nabi. Ia bergetar ketakutan.

Dengan air mata yang mengalir membasahi pipinya, ia mendengarkan Nabi Musa yang tetap berkata, “Apakah Tuhan adalah seorang manusia biasa agar Ia harus kenakan sepatu dan alas kaki? Apakah Tuhan seorang anak kecil yang butuh susu agar Ia tumbuh besar? Tentu saja tidak. Tuhan Maha prima di dalam diri-Nya. Tuhan tidak butuh siapa pun. Dengan berbicara kepada Tuhan seperti yang telah engkau lakukan, engkau bukan saja telah merendahkan dirimu, tetapi kau juga merendahkan semua ciptaan Tuhan. Kau tidak lain dari seorang penghujat agama. Ayo, pergi dan minta maaf, kalau kau masih mempunyai otak yang sehat!”

Gembala yang simple itu tidak paham bahwa apa yang dia sampaikan kepada Tuhan adalah kata-kata yang kasar. Dia juga takmengerti mengapa nabi yang mulia telah memanggilnya sebagai seorang musuh, tetapi ia paham betul bahwa seorang nabi pastilah lebih paham daripada siapa pun. Ia nyaris tak dapat menghindar tangisannya.

Ia berbicara kepada Musa, “Kau telah menyalakan api di dalam jiwaku. Sejak ini, saya berjanji akan menutup mulutku untuk selamanya.” Dengan keluhan yang panjang, ia berangkat meninggalkan ternaknya menuju padang pasir.

Dengan perasaan bahagia gara-gara telah meluruskan jiwa yang tersesat, Musa melanjutkan perjalanannya menuju kota. Tiba-tiba, Allah Yang Mahakuasa menegurnya, “Mengapa engkau berdiri di pada Kami bersama dengan kekasih Kami yang setia? Mengapa engkau pisahkan pengagum dari yang dicintai-nya? Kami telah mengutus engkau agar engkau dapat mencampurkan kekasih bersama dengan kekasihnya, bukan mengatasi ikatan di antaranya.”

Musa mendengarkan kata-kata langit itu bersama dengan penuh kerendahan dan rasa takut.

Tuhan berfirman, “Kami tidak menciptakan dunia agar Kami mendapatkan keuntungan darinya. Seluruh makhluk diciptakan untuk kepentingan makhluk itu sendiri. Kami tidak butuh pujian atau sanjungan. Kami tidak butuh ibadah atau pengabdian. Orang-orang yang beribadah itulah yang menyita keuntungan dari ibadah yang mereka lakukan. Ingatlah, bahwa di dalam cinta, kata-kata hanyalah bungkus luar yang tidak mempunyai arti apa-apa. Kami tidak memperhatikan keindahan kata-kata atau komposisi kalimat. Yang Kami memperhatikan adalah lubuk hati yang paling dalam dari orang itu. Dengan cara itulah Kami paham ketulusan makhluk Kami walaupun kata-kata mereka bukan kata-kata yang indah. Buat mereka yang dibakar bersama dengan api cinta, kata-kata tidak mempunyai makna.”

Suara dari langit seterusnya berkata, “Mereka yang ter-ikat bersama dengan basa-basi bukanlah mereka yang terikat bersama dengan cinta dan umatyang beragama bukanlah umatyang ikuti cinta gara-gara cinta tidak mempunyai agama tak hanya kekasihnya sendiri.” Tuhan sesudah itu mengajarinya rahasia cinta.

Setelah mendapatkan pelajaran itu, Nabi Musa paham kesalahannya. Sang Nabi pun jadi menderita penyesalan yang luar biasa. Dengan segera, ia berlari mencari gembala itu untuk meminta maaf. Berhari-hari, ia berkelana di padang rumput dan gurun pasir, menanyakan orang-orang apakah mereka paham pengggembala yang dicarinya.

Setiap orang yang ditanyainya menunjuk arah yang berbeda. Hampir, ia kehilangan harapan, tetapi pada akhirnya Allah Swt. mempertemukannya bersama dengan gembala itu. Ia sedang duduk di dekat mata air. Pakaiannya compang-camping, rambutnya kusut masai. Ia berada di sedang tafakur yang dalam agar ia tidak memperhatikan Musa yang telah menunggunya memadai lama.

Akhirnya, gembala itu mengangkat kepalanya dan lihat Nabi Musa.

Musa berkata, “Aku mempunyai pesan mutlak untukmu. Tuhan telah berfirman kepadaku bahwa tidak diperlukan kata-kata yang indah kalau kami dambakan berbicara kepada-Nya. Kamu bebas berbicara kepada-Nya bersama dengan cara apa pun yang kamu sukai, bersama dengan kata-kata apa pun yang kamu pilih. Apa yang saya duga sebagai kekafiranmu ternyata adalah ungkapan dari keimanan dan kecintaan yang menyelamatkan dunia.”

Sang Gembala cuma menjawab sederhana, “Aku telah lewat langkah kata-kata dan kalimat. Hatiku saat ini dipenuhi bersama dengan kehadiran-Nya. Aku takdapat mengatakan keadaanku padamu dan kata-kata pun tak dapat melukiskan pengalaman ruhani yang ada dalam hatiku.” Kemudian, ia bangkit dan meninggalkan Nabi Musa.

Utusan Allah ini menatap sang Gembala hingga ia tak nampak lagi. Setelah itu, ia lagi berlangsung ke kota terdekat, merenungkan pelajaran bernilai yang didapatnya dari seorang gembala simple yang tidak berpendidikan.

Sumber : https://tutorialbahasainggris.co.id/

baca juga :