Peran Antropologi Dalam Pewarisan Budaya Bangsa Pada Masa Globalisasi


Peran Antropologi Dalam Pewarisan Budaya Bangsa Pada Masa Globalisasi

Budaya sebagai kajian utama terhadap ilmu antropologi merupakan objek yang tak akan habis dan hilang. Budaya adalah hasil cipta, rasa dan karsa manusia. Dalam suatu budaya maka akan terjaga andaikan budaya berikut diwariskan kepada generasi selanjutnya. Karena budaya merupakan suatu kebiasaan yang tidak akan terlepas berasal dari kehidupan manusia. Budaya termasuk perlihatkan pembawaan berasal dari manusia itu sendiri. Melalui budaya kami sanggup mengerti perihal kepribadian, pembawaan dan kebiasaan berasal dari manusia yang menempel bersama budaya tersebut.

Di jaman sekarang globalisasi terlalu berpengaruh besar terhadap pertumbuhan budaya. Melalui globalisasi ini kami akan memperoleh pengaruh baik pengaruh positif maupun negatif. Sehingga kami sebagai masyarakat yang punya budaya terlalu ragam di negeri ini, wajib sanggup mengolah dan memilah pengaruh berasal dari globalisasi tersebut. Dari pengaruh positif yang kami dapat, kami memperoleh banyak kemudahan berasal dari globalisasi tersebut. Globalisasi yang memudahkan kami di segala segi kehidupan manusia. Sedangkan berasal dari pengaruh negatif, yakni budaya sebagai pembawaan bangsa yang timbul berasal dari tiap-tiap masyarakat bangsa, selagi ini sudah mengalami pergeseran dan pergantian yang terlalu bertolak belakang bersama budaya bangsa sendiri. Sehingga banyak terjadinya penyimpangan norma dalam masyarakat.
Dari gambaran di atas tersebut, maka antropologi terlalu berperan dalam pewarisan budaya bangsa. Antroplogi mempelajari budaya manusia berasal dari jaman di awalnya sampai sekarang.

A.Pengertian Pewarisan Budaya
Pewarisan budaya adalah suatu sistem peralihan nilai-nilai dan norma-norma yang dilakukan dan diberikan melalui pembelajaran oleh generasi tua ke generasi yang muda.

Tujuan berasal dari pewarisan budaya, diantaranya :
1.Pengenalan nilai, norma dan kebiasaan istiadat dalam hidup.
2.Terciptanya suasana yang tertib, tentram, harmonis, dalam masyarakat.
3.Usia manusia terbatas.
Suatu budaya di dalam masyarakat yang tetap menerus dilestarikan atau diteruskan ke generasi seterusnya agar kebudayaan berikut tidak hilang atau punah diterjang oleh kebudayaan yang baru. Oleh karena itu kami sebagai penerus generasi seterusnya wajib sanggup melestarikan budaya yang sudah tersedia agar budaya itu tidak punah. Warisan budaya sanggup berbentuk bahasa, tari, lagu, alat musik, masakan, bangunan atau candid an peninggalan lainnya.

Proses pewarisan budaya, pada lain :
1.Internalisasi
Internalisasi adalah sistem yang berjalan sepanjang hidup individu, yakni sejak lahir sampai akhir hayatnya. Sepanjang hayatnya seseorang tetap belajar untuk mengolah segala perasaan, keinginan nafsu dan emosi, kemudian menjadi sebuah kepribadian.

2.Sosialisasi
Sosialisasi adalah sistem seseorang individu belajar berinteraksi bersama sesamanya dalam suatu masyarakat menurut sistem nilai, norma dan kebiasaan istiadat yang sesuaikan masyarakat yang bersangkutan.

3.Enkulturasi
Enkulturasi adalah sistem belajar dan sesuaikan alam asumsi dan juga sikap adat, sistem norma, dan juga semua keputusan yang tersedia di dalam kebudayaan suatu masyarakat.

Sarana sistem pewarisan budaya terhadap masyarakat secara tradisional, yakni melalui :
1.Keluarga
Keluarga sebagai fasilitas pergantian budaya yang pertama dan utama, karena keluarga sebagai sumber pertama kali belajar atau sebagai agen sosiaisasi primer. Fungsi keluarga :
a.Reproduksi
b.Ekonomi
c.Edukatif
d.Afektif/sikap
e.Perlindungan
f.Religi

2.Masyarakat
Masyarakat berjalan melalui sistem sosialisasi, di mana bagian masyarakat belajar perihal adat, nilai dan norma yang berlaku. Salah satu wujud yang paling penting yakni lingkungan rekan sepermainan.

3.Lembaga Adat
Masyarakat selamanya sama bersama adat. Tiap orang terikat terhadap keputusan kebiasaan yang dimiliki oleh lembaga kebiasaan andaikan ia dilanggar akan mendapat sanksi sosial. Lembaga kebiasaan sebagai daerah pewarisan kebudayaan mengajarkan betapa pentingnya melindungi kelestarian adat, agar generasi muda tidak melupakan begitu saja.
Peran lembaga kebiasaan dalam pewarisan budaya adalah mensosialisasikan norma dan kebiasaan yang berlaku dalam masyarakat.

4.Lembaga Agama
Lembaga agama sebagai sumber utama nilai dan norma. Lembaga agama beri tambahan penekanan terhadap nilai dan norma yang berlaku.
Sarana pewarisan budaya terhadap masyarakat secara moderen :
1.Sekolah atau Pendidikan
Di sekolah terdapat suatu pembelajaran secara sistematis terhadap individu. Dalam pewarisan budaya, sekolah punya faedah :
a.Memperkenalkan, pelihara dan mengembangkan unsur-unsur budaya.
b.Mengembangkan kebolehan penalaran.
c.Memperkuat kepribadian dan budi pekerti.
d.Menumbuhkankembangkan stimulus kebangsaan.
e.Menumbuhkan manusia pembangunan.

2.Media Massa
Melalui fasilitas massa, tiap tiap individu sanggup memperoleh informasi dan pengetahuan. Melalui fasilitas massa juga, cakrawala berpikir masyarakat sanggup dikembangkan dan diperluas dalam suatu sistem pewarisan budaya. Media massa termasuk fasilitas cetak atau elektronik.

3.Bidang Politik
Dalam hal ini, pewarisan budaya dilakukan melalui lembaga pemerintahan. Lembaga ini, berada terhadap tiap-tiap tingkat kehidupan masyarakat. Ada pemerintahan pusat dan daerah yang meliputi kelurahan, rukun warga, rukun tetangga, dan lain-lain.
Peran warga dalam bidang politik disalurkan melalui kelembagaan partai-partai politik. Fungsi lembaga politik yakni mengawasi, menyusun, menerapkan huku-hukum Negara dan menyelenggarakan dan juga mengawasi perundang-undangan, dan lain-lain.
Untuk menyelenggarakan sistem demokratis, kesadaran berbangsa dan bernegara akan tumbuh dalam wujud patriotisme, bela negara dan cinta tanah air.

4.Organisasi atau Kelompok Sosial
Pengelompokan orang-orang yang disebutkan oleh C.H Holley sebagai “secondary kelompok atau kelompok sekunder”. Kelompok ini dibentuk secara teroganisir untuk raih kepentingan tertentu dalam kehidupan masyarakat. Baik dalam bidang keagamaan, pendidikan, politik pemerintahan, dan sebagainya.
5.Bidang Perekonomian
a.Bidang mengolah yakni usaha-usaha membuahkan kebutuhan-kebutuhan ekonomi melalui usaha pertanian, perikanan, peternakan dan perindustrian.
b.Bidang mengonsumsi yakni usaha-usaha yang secara langsung dinikmati warga masyarakat sebagai konsumen, terlebih keperluan manusia untuk memenuhi keperluan sandang, pangan, dan papan.
c.Bidang distribusi yakni usaha-usaha untuk menyebarluaslan hasil-hasil mengolah melalui distribusi perdagangan atau perniagaan.

B.Pengertian Globalisasi
Di jaman globalisasi bangsa-bangsa di dunia tidak sanggup menutup diri berasal dari pergaulan bersama bangsa lain. Pergaulan itu mempunyai pengaruh bagi bangsa yang saling berkomunikasi.
Globalisasi adalah sistem penyebaran unsur-unsur baru terlebih menyangkut informasi secara mendunia melalui cetak dan elektronik.
Dampak Pengaruh Globalisasi Dalam Perubahan Budaya

1.Dampak Positif
a.Mempercepat sistem pertumbuhan pembangunan karena masuknya ilmu ilmu dan teknologi pas guna, baik dalam bidang telekomunikasi dan elektronik maupun bidang lainnya.
b.Memperluas cakrawala berpikir dan berwawasan luas agar menjadikan manusia Indonesia sebagai pelopor pembaharuan dan perintis pembangunan.
c.Perubahan tata nilai dan sikap. Adanya globalisasi dalam budaya menyebabkan pergeseran nilai dan sikap masyarakat yang awal mulanya irasional menjadi rasional.

2.Dampak Negatif
a.Terjadinya goncangan budaya (cultural shock) agar tersedia individu yang tidak siap dalam terima pergantian yang terjadi. Akibatnya mereka tertinggal dan frustasi.
b.Terjadi ketimpangan budaya (cultural lag) disebabkan budaya asing yang masuk tidak serempak.

c.Pergeseran nilai-nilai budaya yang menyebabkan anomi. Pewarisan budaya yang begitu cepat agar pergantian dibidang nilai budaya dan keagamaan.
Dampak globalisasi terhadap kehidupan sosial budaya masyarakat :
1.Pola Tingkah Laku
Pergeseran pola tingkah laku yang disebabkan oleh globalisasi tersebut, menyangkut banyak bidang, layaknya pergantian tingkah laku di lingkungan keluarga, sekolah masyarakat. Contohnya, bersama terdapatnya pergantian tersebut, maka sekarang ini kami disibukkan bersama terdapatnya gadget yang semakin lama faedah benda ini semakin besar, barang siapa yang punya benda ini, seakan-akan dunia dalam genggamannya.

2.Gaya Hidup
Perubahan gaya hidup menyebabkan gejala peniruan atau imitasi secara terlalu berlebih terhadap seorang figure yang lagi dijadikan simbol/idola. Hal layaknya ini sudah berjalan terhadap remaja kami yang sedang melacak jati diri mereka.

3.Kehidupan Keluarga
Diantara para ahli antropologi berpendapat bahwa keluarga adalah kelompok sosial yang paling penting di dalam masyarakat. Keluarga punya dua faedah yakni kelompok di mana individu sanggup menikmati pertolongan berasal dari sesamanya dan keamanan dalam hidupnya.

4.Pendidikan
Pendidikan merupakan usaha mengerti dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan sistem pembelajaran agar secara aktif mengembangkan potensi dirinya, agar sesudah anak terima pendidikan yang terlalu dasar di keluarga, maka anak akan mendapat pendidikan berasal dari lingkungan sekitarnya. Pendidikan yang dilakukan selagi ini melalui tiga jalur, yakni formal, informal dan nonformal.

5.Tatanan Trasidional
Sugeng Reksodiharjo (1990: 87) mengatakan bahwa tata kelakuan dan pedoman tingkah laku yang mempunyai kandungan nilai-nilai budaya wajib dilestarikan dan wajib dipupuk sebagai nilai budaya. Hanya pranata atau “instritution” yang merupakan kelakuan yang berpola berasal dari manusia dan kebudayaan.

C.Antropologi dalam globalisasi
Perkembangan antropologi mengalami kemiripan bersama globalisasi. Antropologi termasuk sedikit banyak lahir dan berkembang berasal dari rahim kolonialisme imperialisme. Kemudian antropologi berkembang bersamaan bersama pertumbuhan imperialisme. Hingga terhadap jaman globalisasi layaknya terhadap selagi ini antropologi punya peran yang terlalu penting yang termasuk dimanfaatkan untuk mewujudkan kepentingan para kapitalis layaknya pembuatan ISO, melacak data-data guna melanjutkan pembangunan, modernisasi, dan lainnya.

Antropologi nampak dilatarbelakangi oleh kehadiran orang Eropa di benua Afrika, Asia, dan Amerika sejak akhir abad ke-16. bersamaan bersama itu maka terbit beragam macam postingan etnografi (etmos berarti ‘bangsa’) yang terlalu menarik perhatian bangsa Eropa terhadap selagi itu. agar menghidupkan sikap-sikap yang beri tambahan stereotype kepada bangsa di luar Eropa, layaknya anggapan bahwa orang-orang ini sebetulnya hanya manusia liar, kemudian nampak makna savage, dan primitive (Koentjaraningrat, 2005:1-2) termasuk layaknya ditulis oleh Edward B. Taylor (1832-1917) dalam karya yang spektakuler “Primitive Culture” (J. Van Baal, 1987:84). Dari anggapan awal itu kemudian menghidupkan karangan-karangan yang bahannya tersusun berdasarkan langkah berfikir evolusi yang lihat masyarakat berkembang melalui beberapa tingkatan evolusi dan karangan-karangan yang berbasis teori diffusi yang lihat masyarakat mengalami penyebaran kebudayaan (Koentjaraningrat, 2005: 2).

Antropologi di Tengah-Tengah Globalisasi
Modernisasi di segala bidang terhadap negara-negara dunia ketiga merupakan tidak benar satu agenda globalisasi. Ciri-ciri berasal dari modernisasi ialah memasukkan ide-ide / materi-materi barat agar dipakai dan diadopsi oleh dunia ketiga. Oleh fred W. Rings menyebut bahwa sistem modernisasi sebagai “westernisasi” (FX. Adi Samekto:2005). Seperti sanggup kami lihat bahwa pengaruh berasal dari sistem westernisasi ternyata tidak sebagus embel-embel yang dipromosikan. Justru yang berjalan adalah sebaliknya, bersamaan bersama meledaknya kuantitas masyarakat di Indonesia. Pembangunan mall-mall megah, hotel berbintang lima, busway, jalur bebas hambatan, justru semakin mempertegas pernyataan bahwa kapitalisme global sanggup menyebabkan ketimpangan sosial yang dahsyat. Hal ini justru semakin menghidupkan perbedaan kelas pada kelas kaya maupun miskin (walaupun nampak kelas menengah). Terjadinya pengangguran yang luar biasa, semakin bertambahnya kaum miskin di kota, anak-anak jalanan, pelacuran dan juga free sex. Tetapi bagi kelas yang kaya nampak budaya hedonistik, permisivisme, konsumeristik yang berlebihan, gaya hidup yang serba mewah dan berkelas, dan lain sebagainya; meskipun berjalan penggusuran disebelahnya mereka seakan acuh. Inilah fakta modernisasi yang sebetulnya yang sanggup kami lihat bersama mata telanjang.
Dengan terdapatnya pengaruh modernisasi tersebut, antropologi sebagai ilmu yang mempelajari perihal pola kehidupan manusia memperoleh lahan penelitian yang semakin luas dan kompleks. Pada selagi ini umumnya antropolog sudah tidak lagi meneliti perihal masyarakat primitif dipedalaman Papua, Kalimantan, NTT dan sebagainya, tetapi lebih banyak memusatkan konsentrasi penelitian mereka terhadap masyarakat “modern”. Sekarang banyak nampak penelitian perihal pertumbuhan industri kecil dan juga munculnya elit-elit baru, pelacuran di suatu lokalisasi tertentu, anak jalanan, dan lain sebagainya yang berbentuk kekinian. Dengan beragam macam latar belakang dan juga stimulus tertentu, baik itu penelitian pesanan maupun penelitian idealis, para antropolog bersama terlalu telaten jalankan pengamatan bersama metode participant observation, live history dan juga yang gunakan metode-metode lain membicarakan secara mendetail fenomena-fenomena baru dan juga pengaruh berasal dari globalisasi.

Dalam pertumbuhan selagi ini, batas-batas antropologi bersama ilmu-ilmu yang lain layaknya ekonomi, sejarah, arkeologi, atau “saudara kandung”nya yakni sosiologi menjadi terlalu tipis. Saat ini banyak penelitian-penelitian berasal dari program belajar sosiologi membicarakan hal-hal secara mendetail (sampai bersama terhadap tingkat subculture), tetapi sebaliknya banyak berasal dari penelitian-penelitian antropologi yang membicarakan hal-hal yang lebih global.

Seiring bersama bergulirnya pembangunan, maka semakin berkembang pula aliran-aliran antropologi yang terlalu diperlukan pemerintah layaknya antropologi ekonomi, antropologi sosial, antropologi kesehatan, dan aliran antropologi terapan yang lain. Meskipun sebetulnya antropologi terapan sudah nampak sejak pertengahan abad ke 19 (Koentjaraningrat, 1990:236).

D.Peran Antropologi Dalam Pewarisan Budaya Bangsa Di Masa Globalisasi
Dalam kehidupan, manusia selamanya mengalami kemajuan tetap menerus karena manusia adalah makhluk yang pemikir dan hasil berasal dari anggapan berikut sudah banyak membuahkan penemuan-penemuan berasal dari segi teknologi, teori dan kebudayaan. Di jaman globalisasi ini sudah banyak sekali perubahan-perubahan yang sanggup kami rasakan di kehidupan sehari-hari dan hal itu termasuk mempengaruhi kebudayaan yang tersedia di masyarakat. Dan pergantian itu kadangkala mengikuti pergantian berasal dari pengaruh globalisasi. Hubungannya bersama antropologi adalah karena antropologi adalah ilmu yang mempelajari hal-hal yang berkenaan bersama manusia dan antropologi ini termasuk termasuk beberapa ilmu telaten layaknya sosiologi, psikologi, ilmu politik, ilmu ekonomi, ilmu sejarah, dan biologi manusia lebih-lebih termasuk humaniora. Fungsi berasal dari antropologi di jaman globalisasi adalah sebagai pengendali tingkah laku menyimpang yang di timbulkan oleh masyarakat karena akibat terpengaruhnya kemajuan globalisasi karena antropologi itu ilmunya sanggup sesuaikan bersama problem yang dihadapi dan sanggup memperoleh solusi sebagai pemecahan masalah yang di hadapi. Ilmu-ilmu antropologi termasuk merupakan ilmu yang efektif sebagai ilmu pendidikan yang sanggup di terima masyarakat.

Antropologi sebagai telaten ilmu yang membicarakan masyarakat atau kelompok manusia dalam beragam wujud ekspedisinya. Pada jaman kini mengalami fragmentasi teoritis oleh Barofsky (1994 : 4) disebut kecenderungan sentrifugal yang kerap menyebabkan sikap yang tidak menentu kalau dihadapkan bersama masalah bagaimana gejala-gejala sosial-budaya sanggup dianalisis dan di interpretasi secara tepat, agar tidak dituduh bahwa yang dilakukan itu tidak pas atau tidak lagi mutakhir.

Pewarisan budaya adalah suatu sistem peralihan nilai-nilai dan norma-norma yang dilakukan dan diberikan melalui pembelajaran oleh generasi tua ke generasi yang muda. Berdasarkan pengertian tersebut, maka ilmu antropologi terlalu berperan dalam sistem untuk turunkan budaya bangsa yang diberikan berasal dari zaman ke zaman, agar kebudayaan berikut tidak akan punah, tetapi akan selamanya lestari lebih-lebih berkembang mengikuti zaman. Apalagi zaman sekarang ini, kami sudah memasuki jaman globalisasi yang menyebabkan budaya asing sanggup bersama mudah masuk ke dalam budaya bangsa kita. Ilmu antropologi sebagai pengendali agar pewarisan budaya selamanya terjaga sesuai budaya yang berjalan di masyarakat.

Pewarisan budaya sebagai sistem sosial dalam pengembangan budaya merupakan usaha manusia untuk melindungi dan pelihara budayanya. Namun, budaya adalah hasil cipta, karsa dan rasa manusia yang punya pembawaan dinamis, mengikuti pertumbuhan zaman. Zaman di mana dulu masih trasdisional dan sekarang sudah modern, karena ditunjang oleh terdapatnya teknologi dan pertumbuhan asumsi manusia perihal kebiasaan dan tingkah laku manusia yang rasional. Seperti pandangan orang Eropa yang lihat manusia di luar Eropa itu perimitif yang pandangan itu dijadikan sebagai awal munculnya ilmu antropologi. Mereka menyebut primitif karena kebiasaan atau tingkah laku orang di luar Eropa itu kuno atau tidak rasional, tidak layaknya yang dilakukan di Eropa selagi itu, yang mereka itu lebih maju, baik dalam alat yang digunakan, benda yang dihasilkan dan hasil berasal dari mengolah manusianya.

Apa yang berjalan terhadap gambaran di atas, kini sudah berjalan dimasa globalisasi ini, di mana semua segi kehidupan masyarakat berbentuk terbuka. Jadi budaya luar sudah tidak lagi mengenal batasan untuk masuk ke budaya kita. Kita sebagai bangsa yang punya keanekaragaman budaya wajib sanggup melindungi kebudayaan kami agar pewarisan budaya kami sanggup berjalan tetap menerus sampai ke generasi kami mendatang.

Pewarisan budaya terlalu penting bagi manusia karena bersama budaya manusia sanggup perlihatkan jati diri kami sebagai suatu makhluk yang berbudaya dan sebagai cirri khasnya, misal kami sebagai orang Indonesia wajib melestarikan budaya Indonesia agar jati diri dan martabat bangsa Indonesia tidak hilang terbawa arus globalisasi, oleh karena itu, kami wajib bangga bersama budaya kami sendiri

Contoh manfa’at antropologi dalam pewarisan budaya:

1. Dapat mengerti pola tingkah laku manusia dalam kehidupan bermasyarakat secara universal maupun pola tingkah laku manusia terhadap tiap-tiap masyarakat (suku bangsa), agar bersama mengerti akan pola tingkah laku tersebut, kami masih sanggup melindungi keaslian budaya dan budaya luar tidak sanggup menggeser budaya asli berikut bersama mudah.

2. Dapat mengerti kedudukan dan juga peran yang wajib kami jalankan sesuai bersama harapan warga masyarakat berasal dari kedudukan yang kami sandang. Jadi, kami mudah untuk mengerti apa yang wajib kami jalankan dan kami tidak mengalami kebingungan dalam hadapi budaya berasal dari luar.

3. Dengan mempelajari Antropologi akan memperluas wawasan kami terhadap tata pergaulan umat manusia diseluruh dunia yang mempunyai kekhususan-kekhususan yang sesuai bersama karakteristik daerahnya agar menyebabkan toleransi yang tinggi.

4. Dapat mengerti beragam macam problema dalam masyarakat dan juga punya kepekaan terhadap kondisi-kondisi dalam masyarakat baik yang mengasyikkan dan juga sanggup mengambil alih inisiatif terhadap pemecahan problem yang nampak dalam lingkungan masyarakatnya.

Antropologi sanggup sesuaikan terhadap zaman dan problem yang di hadapi karena sepanjang di dunia ini masih tersedia manusia yang memperoleh problematika di situ antropologi akan selamanya di butuhkan untuk selesaikan masalah mereka,karena di tiap tiap kehidupan manusia itu tentu akan selamanya memperoleh problem dan itu semua perlu pemecahan masalah untuk melacak solusi dan untuk mengerti akar problem berikut agar sanggup menyelesaikannya bersama seksama maka itu di perlukan antropologi dan kami sebagai generasi sekarang wajib sanggup sesuaikan diri akan kemajuan zaman dan sanggup memilah mana yang baik dan mana yang tidak baik.

Semakin mengerti bahwa ahli antropologi punya peran penting dalam meningkatkan pemahaman kami perihal masyarakat dan kaitannya bersama pewarisan budaya bangsa di jaman globalisasi ini. Globalisasi yang menyebabkan budaya semakin terbuka terhadap budaya di luar bangsa itu sendiri. Sebagai misal bangsa kami Indonesia selagi ini sudah mengalami penurunan pemahaman terhadap budaya bangsa kami sendiri. Bangsa kami semakin tergoda bersama budaya bangsa lain, layaknya bangsa orang barat yang budayanya sudah dilakukan oleh generasi bangsa kita. Generasi kami lebih bangga untuk jalankan kebiasaan orang barat daripada kebiasaan yang sudah dicontohkan oleh orang terdahulu sebelum kita. Bahkan generasi kami sama sekali tidak mengetahui budaya asli bangsa kami sendiri. Fenomena layaknya itu menyebabkan pewarisan budaya bangsa kami mengalami gangguan akibat masuknya budaya berasal dari bangsa luar yang sudah menjadi budaya yang biasa dilakukan di bangsa kita. Budaya-budaya yang dilakukan oleh nenek moyang kami atau orang-orang sebelum kami sekarang ini semakin menyusut lebih-lebih hilang.

Kesimpulan
Dari gambaran di atas sanggup kami simpulkan bahwa peran antropologi dalam pewarisan budaya bangsa di jaman globalisasi ini terlalu penting sebagai pengendali dan meningkatkan pemahaman kami perihal masyarakat dalam usaha mewariskan budaya bangsa kepada generasi seterusnya bersamaan bersama sistem globalisasi yang berkembang terlalu pesat ini. Dengan antropologi kami sanggup memilah mana hal yang baik dan mana hal yang buruk. Antropologi sebagai telaten ilmu yang sanggup berkembang mengikuti zaman dan dipelajari sepanjang manusia masih tersedia yang memperoleh problematika disitulah antropologi selamanya diperlukan untuk selesaikan masalah mereka.

Manusia secara tidak mengerti sudah mewariskan budayanya kepada anak dan cucunya melalui kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan sehari-hari. Melalui kebiasaan-kebiasaan itu maka generasi kami akan mengerti dan mengikuti kebiasaan itu, tetapi sekarang ini, hal itu sudah tidak berlaku terhadap generasi kita. Generasi kami sudah tidak lagi mengerti dan mengetahui budaya bangsa kami sendiri, justru mereka lebih bangga mengikuti budaya orang Barat, yang budayanya berseberangan bersama budaya bangsa kita. Peran antropologi terhadap pewarisan budaya bangsa terlebih dimasa globalisasi ini, yakni sebagai pengendali tingkah laku menyimpang yang di timbulkan oleh masyarakat karena akibat terpengaruhnya kemajuan globalisasi karena antropologi itu ilmunya sanggup sesuaikan bersama problem yang dihadapi dan sanggup memperoleh solusi sebagai pemecahan masalah yang di hadapi. Selain itu, antropologi untuk mengerti tatanan hidup dalam masyarakat, untuk mengerti apa yang wajib kami jalankan dalam hadapi problem dalam budaya, untuk mengerti kedudukan dan peran kami di masyarakat, dan untuk mengerti problematika yang berjalan di masyarakat.

Baca Juga :