Mobil Mini ITS Juara di AS

Mobil Mini ITS Juara di AS


Mobil Mini ITS Juara di AS

Mobil Mini ITS Juara di AS
Mobil Mini ITS Juara di AS

Makin panjang saja daftar prestasi internasional mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). Minggu (29/10) tim Spektronics ITS berhasil menjadi jawara di ajang American Institute of Chemical Engineers (AIChE) Chem-E-Car Competition 2017.

Mobil Spektronics Aerio Superior (AS) menyabet juara pertama untuk kategori Race Competition. Mobil ramah lingkungan bertenaga bahan kimia itu mampu mencatat tingkat error terkecil jika dibandingkan dengan 42 pesaingnya.

Mobil Spektronics AS merupakan prototipe mobil mini yang ramah lingkungan. Sebab, mobil tersebut menggunakan bahan bakar dari reaksi dekomposisi hidrogen peroksida (H2O2) dengan ferum (III) klorida (FeCl3) sebagai katalis. Mobil tersebut memiliki tinggi 29 sentimeter; panjang 36,8 cm; dan lebar 25 cm. Bentuknya menyerupai lokomotif dengan tabung berwarna keperakan di bagian tengah.
Karya Mahasiswa ITS
SUKSES: Spektronics Aerio Superior ITS ke AS. (Allex Qomarulla/Jawa Pos)

Dalam perlombaan yang berlangsung di Minneapolis, Amerika Serikat, itu, mobil harus melaju dalam lintasan sepanjang 23,5 meter. Mobil dengan tingkat error terkecil akan menjadi jawara. Tingkat error dihitung dari jarak akhir yang berhasil ditempuh mobil dengan garis finis. Spektronics AS yang menjadi satu-satunya wakil dari Asia Tenggara mampu mencatat tingkat error hanya 2 cm.

Prestasi itu tak didapat dengan gampang. Pada kesempatan pertama,

Spektronics tampil tidak maksimal. Rifky Putra Herminanto, koordinator tim Spektronics AS, mengungkapkan, mobil mencatat tingkat error 73 cm pada penampilan pertama. Dengan hasil tersebut, ITS hanya menduduki peringkat keenam.

Setelah dievaluasi, akhirnya ditemukan beberapa kendala. Pertama, error yang besar terjadi karena ada tantangan membawa beban air 157 mililiter. Hal itu, lanjut dia, memengaruhi laju mobil. ’’Tantangan tersebut baru diberitahukan sejam sebelum lomba,” ungkap Rifky saat dihubungi Jawa Pos.

Selain itu, perbedaan suhu yang ekstrem menjadi kendala. Akibatnya, lanjut Rifky, performa Spektronics tidak optimal. Beruntung, Rifky dan tim membawa alat penghangat dari Surabaya. Mereka menghangatkan reaktor mobil agar kembali berfungsi optimal. Hambatan lain, menurut Rifky, timnya tidak memiliki kesempatan untuk test run. Akibatnya, Rifky cs tidak bisa melakukan kalibrasi data.

Untung, Rifky dan teman-temannya sudah mempersiapkan segala sesuatu dengan matang.

Sebelum bertanding ke AS, mereka mengalkulasi berbagai kemungkinan hambatan. ’’Karena itu, kami tidak khawatir dan tetap optimistis,” imbuhnya.

Dia menerangkan, bahan kimia yang digunakan saat perlombaan di AS ternyata berbeda dengan di Indonesia. Hal itu juga memengaruhi laju mobil. Maklum, mobil tersebut diramu dengan reaksi kimia H2O2 dengan ferum (III) klorida (FeCl3) sebagai katalis.

Rupanya, strategi yang diambil Rifky dan tim sangat tepat. Pada kesempatan kedua,

mobil melesat jauh dan menyalip sang juara bertahan, University of California, Irvine. ’’Hasilnya cukup kompetitif, tingkat error peringkat kedua 9 cm,” ujar mahasiswa angkatan 2015 itu.

Selain mengalahkan juara bertahan, Spektronics mampu menggeser jagoan-jagoan dari negara lain. Misalnya, Tiongkok, Puerto Rico, Yunani, Hongkong, Taiwan, Arab Saudi, dan Korea Selatan. Meski merupakan pengalaman pertama, Rifky puas dengan hasil yang diraih. Apalagi, Spektronics juga mendapat penghargaan untuk kategori Best Video Competition.

Rektor ITS Prof Joni Hermana mengungkapkan, hasil tersebut sekaligus menjadi gebrakan untuk eksistensi ITS di kancah dunia. Selain itu, Himpunan Mahasiswa Teknik Kimia ITS turut diakui sebagai Student Chapter IAChE. ’’Ini sekaligus jadi hadiah manis untuk Dies Natalis Ke-57 ITS,” ujarnya.

 

Sumber :

https://nouw.com/danuaji/understanding-and-examples-of-explanator-36084748