Mengenal Bulan Merah Saat Gerhana Bulan

Mengenal Bulan Merah Saat Gerhana Bulan


Mengenal Bulan Merah Saat Gerhana Bulan

Mengenal Bulan Merah Saat Gerhana Bulan
Mengenal Bulan Merah Saat Gerhana Bulan

Untuk pertama kalinya

selama hampir empat abad, gerhana menempatkan matahari, bumi dan bulan tepat dalam satu garis lurus, dengan cahaya residu terpancarkan ke atmosfer kita. Sebenarnya, pada peristiwa gerhana bulan, seringkali bulan masih dapat terlihat. Ini dikarenakan masih adanya sinar matahari yang dibelokkan ke arah bulan oleh atmosfer bumi. Dan kebanyakan sinar yang dibelokkan ini memiliki spektrum cahaya merah. Itulah sebabnya pada saat gerhana bulan, bulan akan tampak berwarna gelap, bisa berwarna merah tembaga, jingga, ataupun coklat.

Mereka yang berpayung

di bawah langit Amerika Utara dan Eropa dapat menikmati pertunjukkan bulan yang mengagumkan, saat gerhana bulan penuh membuat bulan seolah bewarna pink, tembaga, bahkan merah terang, hari Selasa 21 desember 2010 waktu setempat. Saat itu, bayangan bumi butuh tiga jam 28 menit untuk menyelimuti wajah bulan.

Ketika itu, terjadi gerhana bulan total selama 72 menit dan dapat diamati di Pantai Timur Amerika Serikat (AS), pukul 01.33-05.01 waktu setempat. Sedangkan di Pantai Barat, pengamat langit melihatnya pukul 10.33-02.01 waktu setempat.

Fakta bahwa planet kita

cukup besar untuk menghalangi cahaya matahari, Anda tentunya sempat berpikir bayangan bumi akan sepenuhnya menutupi matahari. Hal ini malah membuat cahaya bulan menyeramkan dan menakutkan. Mengapa demikian?

Jika bumi menghalangi

sinar matahari akan ‘membelok’ dan melalui tepi bumi. Lalu cahayanya tercermin ke bulan. Warna kemerahan bulan berasal dari sinar cahaya yang langsung disaring melalui atmosfer bumi. Efek visual yang sama membuat matahari terbenam berwarna mencolok.

Atmosfer bumi

bertindak seperti filter, menghapus sebagian besar cahaya berwarna biru dan menyisakan cahaya merah-oranye ke permukaan bulan. Bulan akan berubah menjadi berbagai warna selama tahapan gerhana yang berbeda-beda. Mulai dari abu-abu, ke oranye dan kuning. Kecerahan warna juga dapat dipengaruhi kondisi atmosfer. Menurut Lembaga Antariksa AS (NASA), partikel ekstra di atmosfer, seperti dari letusan gunung berapi, dapat menyebabkan bulan berwarna lebih gelap dari merah

Kejadian ini sangat langka dan hanya akan terjadi lagi 21 Desember 2094, menurut Geoff Chester dari US Naval Observatory, dikutip NASA. Kejadian ini pernah terjadi 21 Desember 1638.

 

(Sumber: https://balad.org/)