Competition and Conflict

Competition and Conflict


Competition and Conflict

Competition and Conflict
Competition and Conflict

Dalam teori Realistic conflict dikatakan bahwa konflik

yang terjadi antar anggota kelompok disebabkan adanya kompetisi yang terjadi diantara mereka karena adanya keterbatasan sumber daya tertentu seperti kekuasaan, sumber daya alam, dan lain-lain (Forsyth, 1999). Suatu kelompok akan mengambil langkah-langkah yang mereka butuhkan untuk mencapai tujuan mereka dan mengahalangi kelompok lain untuk mencapai tujuan mereka.

 

Competition adalah

suatu situasi kinerja yang disusun sedemikian rupa sehingga salah satu anggota kelompok yang sukses dan yang lain gagal (Johnson 2002). Misalnya saja, di dalam sebuah tim dance, akan tampak ada seorang anggota yang terlihat paling menonjol di antara anggota yang lain. ini dapat menjadi konflik ketika suatu saat ada anggota lain yang ternyata menjadi lebih baik dari dirinya. Namun sebaliknya, hal ini sebenarnya dapat menjadi positif ketika ada rasa kompetisi di antara anggota yang membuat masing-masing dari mereka menjadi berlatih semakin giat, sehingga tim mereka dapat menampilkan performa yang baik. Maka akan terciptalah suatu kondisi cooperation di mana kesuksesan salah satu anggota kelompok akan  memungkinkan meningkatnya indikator kesuksesan anggota lain. Hanya sedikit situasi yang melibatkan secara murni cooperation atau murni competition, biasanya motif yang ada didasari atas percampuran kedua hal tersebut.

 

Setiap individu mempunyai nilai-nilai orientasi

masing-masing, yang mana ada tiga dasar orientasi nilai sosial yang mendasarinya, nilai-nilai itu sebagai berikut.

  1. Competitor: dimotivasi untuk memaksimalkan hasil sendiri dan meminimalkan hasil yang lain, melihat ketidaksetujuan sebagai situasi kalah-menang.

Orang yang memiliki nilai ini cenderung untuk bersaing untuk kepentingannya sendiri, di mana ia ingin menonjol di antara anggota kelompok yang lain.

  1. Cooperator: dimotivasi untuk memaksimalkan hasil bersama (berusaha untuk memaksimalkan hasil sendiri dan orang lain), mengusahakan solusi menang-menang pada ketidaksetujuan.

Orang yang memiliki nilai ini, cenderung lebih mengutamakan kebersamaan, di mana dia tidak hanya memikirkan diri sendiri, namun juga berusaha membantu anggota yang lain supaya nantinya mampu mendapatkan kesuksesan bersama.

  1. Individualist: dimotivasi hanya untuk memaksimalkan hasil sendiri, membantu atau merugikan yang lain jika tindakan meningkatkan hasil sendiri, mengusahakan tujuan sendiri.

Orang dengan nilai seperti ini, akan berusaha menggunakan berbagai cara untuk mendapatkan kesuksesan bagi dirinya sendiri.

  1. Social Dilemmas

Situasi interpersonal di mana individu harus memilih di antara memaksimalkan hasil pribadi dan meminimalkan hasil kelompoknya. Konflik akan muncul ketika ada motif individual dalam suatu kelompok, karena hal tersebut akan membuat ketidakseimbangan dalam suatu kelompok. Hal ini dapat terjadi dalam situasi sebagai berikut.

Ø  Pembagian Sumber Daya

Setiap kelompok mempunyai sumber daya yang terbatas, untuk itu mereka harus membagikannya dengan adil pada setiap anggotanya. Pada kenyataannya adil dan tidak adil sering membuka perdebatan. Konflik datang ketika anggota kelompok tidak setuju mengenai aturan yang digunakan dalam membuat alokasi atau ketika standar tidak diterapkan secara tidak adil. Standar dalam pembagian itu sendiri ada dua macam, yaitu:

ü  Equity norm adalah standar sosial yang mendorong pembagian hadiah dan sumber daya untuk anggota yang sebanding dengan pemasukan mereka.

Jadi, pembagian didasarkan atas apa yang telah dia kerjakan, misalnya anggota yang paling giat bekerja maka akan mendapatkan bagian yang lebih besar dari pada yang tidak giat.

ü  Equality norm adalah standar sosial yang mendorong pembagian hadiah dan sumber daya dengan sama untuk semua anggota.

Jadi, pembagian dibagi sama rata untuk semua anggota, tidak memandang bagimana pekerjaannya, semua mendapat bagian yang sama.

Dalam suatu kelompok, konflik diharapkan mencapai suatu solusi dengan cepat. Tetapi, konflik antar anggota kelompok juga bisa menjadi faktor yang membuat upaya pengendalian konflik tidak dapat dilakukan dengan baik. Dalam confrontation and escalation  terdapat 6 hal yaitu, Uncertaintyà Commitment, Perception       Misperception, Weak Tactics   à   Stronger Tactics, Reciprocity   à   Upward Conflict Spiral, Few à     Many, dan Irritation   à    Anger.

Uncertainty  à  Commitment

 Setiap Anggota kelompok menjadi lebih berkomitmen dalam hal mempertahankan posisi mereka daripada memahami mengapa posisi mereka diambil alih oleh orang lain. Dalam suatu konflik meskipun mereka menyadari kesalahan mereka, tetapi, mereka tetap berdebat hanya untuk menyelamatkan wibawa mereka. Orang-orang akan membenarkan pilihan mereka ketika orang yang telah mereka pilih  tersebut telah menjadikan mereka sesuai dengan keinginan mereka.  Selain itu mereka berusaha untuk mencari dan mengumpulkan informasi sebanyak mungkin yang memungkinkan untuk mendukung pandangan mereka mengenai suatu hal dan ketika mereka menemukan suatu informasi yang dapat menyebabkan konflik antar anggota kelompok, mereka akan segera menolak informasi mereka. Sehingga, Kedudukan mereka akan tetap dalam keadaan semula tanpa ada perubahan.

Perception à  Misperception

Saat seseorang berkonflik dengan orang lain, reaksi yang mereka timbulkan  akan berbeda-beda berdasarkan persepsi dan seseorang yang berada dalam situasi tersebut.  Jika antar anggota mengalami perbedaan persepsi , mereka tidak akan mengubah perbedaan tesebut menjadi konflik jika perbedaan tersebut menghasilkan suatu keputusan yang baik bagi kelompok tersebut. Jika dalam setiap kelompok memiliki persepsi yang sama anggota di dalamnya antar satu dengan yang dapat mengerti satu sama lain. Tetapi, ada perceptual bias yang dapat memutarbalikkan pemikiran dari orang lain, salah satunya adalah fundamental attribution error.  Fundamental attribution error merupakan pandangan  dari anggota kelompok terhadap perilaku orang lain yang disebabkan oleh  pribadinya bukan dari situasinya.

 Weak Tactics    à  Stronger Tactics

Kita mampu mempengaruhi orang dengan berbagai cara seperti memberikan reward, hukuman, ancaman, bernegosiasi, dan lain-lain. Tetapi, ada beberapa cara yang yang dapat kita dijadikan sebagai taktik yang kuat untuk mempengaruhi orang lain dibandingkan yang lain. Seseorang biasanya menggunakan taktik yang lemah sebagai suatu permulaan konflik, tetapi, ketika konflik tersebut sudah memuncak maka mereka akan mengubah taktik mereka yang lemah menjadi  kuat bahkan sangat kuat.

Reciprocity  à   Upward Conflict Spiral

Reciprocity adalah saat dimana orang yang pernah menolong kita meminta bantuan kita, kita balik membantu mereka. Sehingga, dapat di katakan norma yang berlaku sama saat seseorang menyakiti kita, maka, kita bisa menyakiti mereka kembali.  Sehingga, dapat dikatakan bahwa reciprocity merupakan suatu balas budi, dimana ketika dalam konflik menggunakan kekerasan maka orang lain juga dapat menggunakan kekerasan untuk menyerang balik. Sebaliknya, jika dalam konflik menggunakan cara yang baik, maka, mereka akan menyelesaikan dengan cara yang baik.

 Few   à   Many

Berkoalisi  dengan kelompok lain merupakan hal yang marak terjadi di banyak kelompok. Hal tersebut dilakukan untuk menambah kekuatan bagi suatu kelompok untuk tujuan mengalahkan kelompok yang lain.  Tetapi, kelompok koalisi juga memiliki kontribusi yang sama dalam menimbulkan konflik. Sebab, ketika kelompok satu dengan yang lain berkoalisi untuk menjatuhkan kelompok yang menjadi musuh mereka maka, konflik yang terjadi akan semakin besar. Sebab, mereka melibatkan kelompok lain untuk membuat masing-masing kelompok memiliki kekuatan yang besar untuk menyelesaikan konflik.

Irritation à Anger

Tanda-tanda terjadinya sebuah konflik adalah ketika emosi negative seseorang meningkat dan perselisihan memuncak.  Seseorang akan lebih mudah mengeluarkan emosi negatifnya kepada seseorang yang mereka kenal dibandingkan dengan orang asing atau orang yang baru mereka kenal. Di sebutkan juga bahwa marah juga dapat mengakibatkan meningkatnya sisi negative dari konflik.

Escalation of Conflict

Konflik yang terjadi antar anggota kelompok atau kelompok yang satu dengan yang lain, membutuhkan waktu yang lama untuk berkembang. Sebab, suatu kelompok memiliki batasan untuk tidak menjadi musuh dan lebih memilih untuk menghentikan konflik.

Conflict and reciprocity

Dapat dikatakan bahwa mereka menjawab suatu ancaman dengan acaman, kekerasan dengan kekerasan, dan begitu seterusnya. Konflik dimulai dari sedikit gangguan dan ketidaknyamanan yang terus berlanjut sehingga berubah menjadi suatu konflik.

Power and Exploitation

Meskipun kompetisi menjadi penyebab dari konflik yang terjadi antar anggota, namun, adanya dominasi dari satu anggota terhadap anggota kelompok lain juga dapat menyebabkan konflik. Sebab, mereka tidak hanya ingin mengontrol  kesempatan yang langka tetapi juga mengontrol yang lebih dari kelompok lain.

Scapegoating and conflict

Teori scapegoat mengatakan bahwa dalam konflik antar anggota kelompok, tingkat kemarahan akan meningkat dalam diri seseorang ketika mereka mengalami frustasi dan mereka akan mengeluarkannya dengan cara menyerang anggota kelompok lain yang tidak berada dalam situasi tersebut sebagai respon atas rasa frustasi dan ketidakpuasan yang dialami. Terkadang, kelompok minoritas menjadi korban dari kelompok mayoritas, sehingga, terkadang dalam melampiaskan kekesalannya kelompok minoritas akan melampiaskan ke kelompok yang lebih minortas lagi dibandingkan dengan ke kelompok yang memiliki kekuasaan yang besar.

Sumber : https://topsitenet.com/article/213043-understanding-and-examples-of-explanatory-texts/